Ramadhan bukan sekadar momentum berbuka puasa. Di sejumlah pesantren di Sulawesi Selatan, ia menjadi titik penguatan hafalan.
Laznas BMH menyalurkan 200 mushaf Alquran hafalan, Ahad (02/03/26). Penyaluran itu dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Pesantren Ummul Qurra Maros, Al Bayan Makassar, Al Islam Tamalanrea, dan beberapa titik lainnya.
Peristiwa ini sederhana, tetapi denyutnya jelas: menjaga kesinambungan hafalan.
Santri penghafal Alquran berinteraksi dengan mushaf setiap hari. Intensitas itu membuat mushaf cepat rusak. Idealnya, mereka mengganti Alquran setiap enam bulan atau ketika lembaran mulai sobek. Jika mushaf rusak, konsentrasi terganggu. Jika konsentrasi terganggu, hafalan rawan goyah. Karena itu, mengganti mushaf bukan soal seremonial, tetapi soal menjaga kualitas proses.
Amira, santri Al Bayan, merasakan langsung manfaatnya. Mushaf lamanya sudah sobek di beberapa bagian. “Terima kasih untuk kakak BMH dan donatur, hadiah Alqurannya sudah kami terima,” ujarnya. Ramadhan ini ia menargetkan khatam tiga kali. Mushaf baru memberinya kenyamanan, dan kenyamanan memperkuat disiplin.
Kadiv Program Pemberdayaan Laznas BMH, Basori Shobirin, menyatakan “Di bulan Ramadhan, mushaf dibagikan. Di belakangnya, ada investasi jangka panjang: menjaga hafalan, menumbuhkan semangat, dan memperluas akses ilmu. Sebab membangun peradaban sering kali dimulai dari hal yang tampak sederhana—sebuah mushaf yang utuh di tangan seorang santri yang tekun,” tutup Basori.
Akses yang baik melahirkan interaksi yang intens. Interaksi yang intens melahirkan hafalan yang kuat. Hafalan yang kuat membentuk karakter Qurani. Dari karakter itulah lahir generasi yang tidak hanya cakap membaca, tetapi juga terlatih menjaga nilai.








